fbpx
Pengaruh maraknya pembakaran di tanah Sumba
Nofi, anggota Kawan Baik Indonesia yang sedang bertugas dalam proyek rekonstruksi sekolah Mbinudita di Sumba Timur mengalami kejadian tidak menyenangkan. Bayangkan saja, dalam perjalanan menuju Desa Praipaha, api nyaris menyambar ban motornya. Kabut asap menyelimuti area sekitar, jarak pandang hanya beberapa meter, menyebabkan kendaraan di depan kendaraan Nofi tidak terlihat jelas. Panas merambat dengan cepat. Saat berada di puncak bukit, titik api mengelilingi bukit tempat ia berada.
Fair Future Indonesia - Kawan Baik Indonesia | September 03, 2020/ Kawan Nofi, Kawan Gogon, Kawan Andri in Sumba

Halo Kawan, sahabat terkasih, teman-teman,

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh masyarakat di luar Pulau Sumba yang penasaran dengan situasi terkini di pulau ini. Kondisi yang dimaksud adalah bagaimana kondisi fisik lanskap Sumba, apakah berwarna hijau atau coklat kemerahan.

Beberapa orang lebih suka Sumba di musim hujan, sejuk dan perbukitan ditumbuhi rumput tinggi klorofil, seperti karpet hijau di Selandia Baru. Namun bagi sebagian orang lainnya yang menyukai eksotisme akan sangat senang jika disambut rerumputan rapuh dan kering yang hampir coklat terbakar dengan nuansa liar seperti sabana Afrika. Sabana yang sangat indah ini masih jarang dikenal atau sering dilupakan karena banyak orang yang lebih mengenal Indonesia sebagai negara dengan banyak hutan hujan tropis.

Namun, sekarang bukan dua musim yang menjadi jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

Di Sumba Timur, September adalah periode “musim tanam ke ladang”. Sehingga pada bulan Agustus masyarakat cenderung membakar lahan untuk membersihkan lahan agar siap tanam pada bulan berikutnya dan untuk rumput segar untuk pakan ternak. Masyarakat setempat menganggap pembakaran lahan tersebut sebagai solusi tercepat dan termudah untuk membersihkan rumput menjelang persiapan musim tanam, selain itu bukit-bukit yang terbakar cenderung menumbuhkan rumput baru yang dianggap lebih sehat dari sebelumnya untuk kebutuhan pakan ternak mereka.

Kebiasaan membakar lahan tersebut merupakan warisan dari generasi sebelumnya di Sumba Timur. Jika dilihat dari perspektif konservasi, jelas bahwa pembakaran adalah tindakan yang sangat merusak lingkungan dan berpotensi membunuh rantai ekosistem yang dilalui api. Tidak hanya rumput tetapi juga tumbuhan lain, jangkrik, cacing tanah, serangga, dan hewan lainnya. Begitu pula dengan asap dan api yang menyebar dari lahan yang terbakar sangat merugikan dan membahayakan masyarakat sekitar. Hal itu diperparah dengan angin kencang yang melanda Sumba Timur. Nyatanya, terbakarnya sebagian lapangan di kawasan proyek rekonstruksi sekolah Mbinudita secara tidak sengaja akibat kebakaran hutan ditambah angin kencang merupakan bukti nyata betapa merugikannya kebiasaan tersebut.

Sebagai pendatang dari luar pulau Sumba, Nofi hanya mampu mengamati dan menikmati. Entah itu asap tebal dan panas dari bara api. Padahal, solusi sederhana untuk membersihkan lahan adalah dengan cara manual yaitu mencabut tanaman sebelumnya satu persatu. Ini akan memakan lebih banyak waktu dan sedikit lebih banyak energi, tetapi hasilnya akan lebih baik tanpa dampak negatif pada alam.

Fenomena kebiasaan membakar lahan di Sumba mendorong kita untuk merefleksikan bahwa tidak semua kebiasaan yang diturunkan dari generasi sebelumnya dianggap “benar”, dan belum tentu “baik”. Menutup mata terhadap dampak dan konsekuensi dari “cara cepat” yang dipilih tanpa memikirkan lingkungan, tanpa disadari dapat membahayakan kita.

Kawan Nofi, Base Camp Kawan Baik Waingapu, Sumba timur. Kawan Baik Indonesia dan Fair Future Indonesia, 03.09.2020.

#KawanBaikSumba #TakeCareofMyEnvironnement #ForestFireInSumba #KawanBaikIndonesia #FairFutureFoundation #FairFutureIndonesia